Kedudukan Kata "adalah"?

Saya mau bertanya tentang kata “adalah”. Dalam KBBI “adalah” termasuk kelas kata verba.

“adalah” termasuk verba transitif atau intransitif?

Kalimat seperti: “Budi adalah seorang guru”

Apakah “adalah” sebagai predikat?

Apa kedudukan “Seorang guru”? Apakah menjadi objek atau termasuk unsur gabungan dari predikat “adalah”?

1 Like

Kalau bisa pertanyaanya yang mudah lah, biar gak buka lima buku gramatika. :crazy_face:

Transitif

Transitif: kata kerja perlu objek
Intransitif: kata kerja tidak perlu objek

Predikat

Beda-beda ini Sob kajiannya. Tergantung dari sudut pandang mana mau dibahas.

Kalau bahas predikat, berarti struktur kalimat.
Kalau bahas objek, berarti kelas kata.

Dua kalimat terakhir itu, kalau gak salah loh ya. Mesti buka tiga buku teori bahasa lagi. :face_with_hand_over_mouth:

1 Like

Apa yang sulit bagi abang? hehe :sweat_smile:

Nah, di sini letak kebingungan saya. :roll_eyes: Transitif berarti harus ada objek kan ya?

Kebingungan saya lebih mengarah kepada apa alasannya?

Biasanya kita bisa menilai dengan mudah apakah sebuah verba itu transitif atau intransitif melalui pemaknaan.

Kata “memukul” misalnya, tidak mungkin berdiri sendiri begitu saja. Harus ada penderita yang menjadi sasaran pukulan.

Nah, jika “adalah” itu transitif, apakah yang menjadi alasannya dari segi pemaknaannya?

Apakah disebabkan karena kedudukannya yang tidak bisa dipisahkan dengan kata atau kalimat setelahnya agar sebuah kalimat menjadi sempurna maknanya. Kita tau bahwa tidak mungkin “seorang guru” di atas dihapus.

Bila alasannya yang kedua, berarti apakah ada pendefinisian lain terkait apa itu transitif dan intransitif?

Berbicara kelas kata, kalau “adalah” itu transitif, berarti “seorang guru” itu “objek”. Begitu ya? :thinking:

Trus kalau sudah tahu alasannya, buat apa? Ada manfaatnya gitu?

Transitif: “Saya cinta …”

Cinta sama siapa? Cinta sama sama kucing? Cinta sama seseorang manusia atau makhluk gaib?
Kalimat itu perlu penjelasan lagi (atau objek) supaya jelas.

Intransitif: “Saya Tidur”

Semua orang tahu bagaimana cara tidur. Kecuali dia tidur dengan cara kepala di bawah, kaki di atas.


Ada banyak buku gramatika bertebaran bahas soal ini. Silakan cari yang bisa diunduh secara gratis. Ada banyak sekali, khususnya versi bahasa Inggris.

Contohnya “An Introduction to Functional Grammar” oleh M.A.K. Halliday. Kalau sudah paham buku setebal 700 halaman itu, dijamin langsung jadi doktor.

5.2.2 Transitive and intransitive material clauses
Let us recapitulate. In a ‘material’ clause, there is always one participant — the Actor. This
participant brings about the unfolding of the process through time, leading to an outcome
that is different from the initial phase of the unfolding. This outcome may be confined to
the Actor itself, in which case there is only one participant inherent in the process. Such a
‘material’ clause represents a happening and, using traditional terminology (see below), we
can call it intransitive. Alternatively, the unfolding of the process may extend to another
participant, the Goal, impacting it in some way: the outcome is registered on the Goal in
the first instance, rather than on the Actor. Such a ‘material’ clause represents a doing and
we can call it transitive. The constructed examples in Figure 5-6 illustrate the contrast …

Halaman 180 dari buku Eyang Halliday edisi ketiga.

Kalau pembahasan ini terus berlanjut, akan terlalu dalam.

Kalau memang layak, mending bantu ajak teman-temannya ke sini.

Oh ya, topik ini sepertinya lebih tepat ditaruh di kategori #ilmu
Nanti, boleh dipindahkan ya?
thank you

1 Like

Waduh, bacaan semacam itu melampaui kemampuan saya karena saya tidak bisa berbahasa inggris. :grimacing:

Mohon maaf, pak, bila pertanyaan saya rumit dan terkesan menyusahkan. Jadi, tidak usah dilanjutkan lagi :raised_hand:

Siap! Sudah saya pindahkan, pak

Rupanya bisa dipindahkan sendiri, terima kasih.

Sebenarnya pembahasan topik ini sangat bermanfaat dan menarik sekali. Saya sendiri suka dengan pembahasan ini, meski bukan ahlinya.

Pertanyaan itu sebenarnya memancing tujuan judul pertanyaan topik ini diajukan. Kadang ada pertanyaan yang disampaikan hanya atas dasar rasa penasaran. Kadang ada juga (mungkin) untuk memenuhi tugas.

Manfaat mengetahui verba transitif atau intransitif itu banyak sekali. Terutama untuk analisis bahasa dan makna sebuah ujaran kalimat. Dalam konteks yang lebih luas, bagaimana memaknai sebuah pidato kenegaraan, contohnya. Apalagi sekarang ada UU ITE yang gak jauh-jauh dari analisis bahasa.

Dalam ilmu bahasa, ada ilmu analisis wacana, lebih mengerucut lagi ada ilmu Analisis Wacana Kritis (AWK) atau Critical Discourse Analysis (CDA). Kerjaannya membedah sebuah paragraf untuk dikaji makna masing-masing kalimat. Kalau tidak salah loch ya, belum buka buku teori lagi soalnya. :grimacing:

Mudahnya, paling tidak, mereka yang sudah mengenal makna dibalik bahasa bisa menebak arah dan maksud pembicara. Minimal jangan mudah tertipu dengan kata-kata manis alias hoaks.

Sama dengan topik ini.

Keengganan melanjutkan diskusi ini karena hanya dua orang yang muncul dan maksud topik ini tidak begitu jelas.

Namun demikian, sebagai ruang diskusi yang baru berdiri, satu topik yang dibuat adalah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Cuma kurang seru saja, soalnya yang muncul hanya dua orang. Jadi gak enak juga dilihat. Sebagaimana halnya saat saya membuat topik baru seorang diri untuk mengisi ruang diskusi ini. :sweat_smile:

Itu sebabnya, mintol atau minta tolong dibagikan ke teman-temannya. Biar ramai juga yang muncul.


Maaf kalau agak lebai bahasanya. Tidak perlu sungkan buka topik lain lagi yang keren. Seperti topik ini. Paling saya saja yang kesusahan jawabnya. :rofl:

terima kasih