Virus Merambat, KKN Terhambat

Oleh : Reza Pangestika
*Sragen, 12 Juni 2020

48a5d83a-1fff-46b6-a26d-b0edf631a0c8
(Sumber : Dokumentasi Penulis)

SRAGEN - Rasa kecewa masih menyelimuti para mahasiswa dalam melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) karena adanya Covid 19. Berpikir akan melaksanakan KKN secara berkelompok di suatu daerah tertentu yang diinginkan, tapi kenyataannya hal itu tidaklah terjadi.

Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi salah satu momen yang paling ditunggu oleh para mahasiswa. Namun kali ini momen itu tidak bisa dirasakaan oleh para mahasiswa karena adanya pandemi Covid-19. Banyak Universitas yang memilih menunda kegiatan KKN selama pandemi. Berbeda dengan Universitas lain, Universitas Sebelas Maret (UNS) memberi kebijakan untuk melaksanakan KKN di desa tempat mahasiswa berasal.

Maya Novita Sari adalah salah satu mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) yang melakasanakan KKN di desa sendiri yaitu di desa Nyaen, Trobayan, Kalijambe, Sragen. Ia merasa kecewa dengan adanya pandemi Covid-19 ini, alhasil harus melaksanakan KKN di desanya sendiri. “Untuk saya pribadi KKN itu salah satu momen yang saya tunggu-tunggu dari awal saya menjadi mahasiswa. Menurut saya KKN merupakan suatu hal yang dimana kita bisa mendapatkan pengalaman di luar sana. Jadi kayak mengeksplor suatu tempat juga dan mencari pengalaman. Namun kenyataannya, rencana Allah tidak mengizinkan kita untuk mengikuti KKN di luar daerah karena kondisi pandemi covid-19 ini,” Ucapnya (11/06).

Mahasiswa merasa kecewa dengan adanya Covid-19 ini yang mengakibatkan adanya hambatan dalam pelaksanaan KKN. Biasanya KKN dilakukan secara berkelompok tapi kali ini harus dilakukan secara individu. Mau tidak mau mahasiswa harus merasakan suka dukanya sendiri. Ada beberapa kendala yang dirasakan mahasiswa selama pelaksanaan KKN, seperti dari segi teknis, segi persiapan, pelaksanaan maupun pertanggungjawaban yang nantinya akan dilaksanakan secara individu.

“Biasanya sosialisasi pada KKN dan proker-prokernya juga dilakukan secara langsung pada masyarakat. Namun ini kan tidak bisa, nah kita hanya diberikan kesempatan secara online ataupun jika ingin memberikan barang bisa melalui relawan seperti pemuda-pemuda desa, Ketua RT, dan sebagainya. Sebenarnya ini tergantung dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) masing-masing dari mahasiswa juga sih,” Imbuhnya.

Maya mengaku jika mendapat respon yang rendah dari masyarakat terkait dengan sosialisasi yang dilakukannya secara daring. Bahkan, generasi muda pun kadang juga cenderung cuek. Namun, bagaimana pun juga ia tetap berusaha semaksimal mungkin melaksanakan tugasnya dalam mengedukasi masyarakat supaya lebih memahami tentang Covid-19.

“Semoga kasus ini segera berakhir dan Indonesia kembali pulih supaya masyarakat dapat melaksanakan aktivitasnya seperti semula. Banyak sekali masyarakat yang merasakannya baik dari anak-anak sampai yang tua,” tambah Maya.

21 Likes

Pengaruh korona benar-benar masuk ke segala sendi kehidupan. Nanti lama-lama KKN berubah jadi KKD, Kuliah Kerja Daring. :grin:

Eh tapi enak juga kalau KKN-nya online, gak banyak keluar dulit kali ya. :grimacing:

2 Likes