Public relations: new normal, new media

PUBLIC RELATIONS: NEW NORMAL, NEW MEDIA
Oleh: Maria Imaculata Sindi Prastiwi

41d48fc5-4633-4fae-9112-88bc5a39f3dePR-img-700x350

Klaten - Ibarat sebuah tubuh, Public Relations merupakan jantung organisasi yang berperan memanipulasi publik dengan informasi. Maka dari itu, bagaimanapun kondisinya jantung harus tetap bergerak agar tetap hidup. Public Relations sering dihubungkan dengan marketing. Padahal sebenarnya sangat berbeda. Public Relations memiliki fungsi pada suatu organisasi perusahaan dalam membantu, mendidik, memberi informasi, serta menciptakan ketertarikan pada masyarakat.

Webinar mengenai “Public Relations di Masa Pandemi Siapkah Bertarung?” dengan pembicara Octo Lampito selaku Pemimpin Redaksi SKH Kedaulatan Rakyat dan KRJogja(dot)com, memaparkan mengenai Public Relations dalam menghadapi masa pandemi ini.

“Tugas Public Relations ibarat bermain bola, harus bisa untuk menyerang, bertahan, menghadapi krisis, serta memelihara semua kepercayaan publik.” Ungkap Octo Lampito pembicara webinar yang diselenggarakan pada 19 Desember 2020.

Pandemi ini tak jauh dari istilah “new normal” yang selalu beresonansi pada telinga serta pikiran kita. Era pandemi ini juga membawa pengaruh besar terutama pada konteks Public Relations. Sosok Public Relations yang profesional adalah jawabannya. Salah satunya dengan merancang strategi komunikasi yang baik di masa pandemi. Saat ini tiap saat hoax bisa datang menyergap, seorang Public Relations harus siap bertempur melawan dengan informasi yang dipunyai sebagai alat tempur.

Informasi yang disampaikan oleh Public Relations haruslah akurat, kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan. Karnanya, informasi merupakan kunci seorang Public Relations dalam menghadapi era pandemi. Maka, sosok Public Relations yang dibutuhkan merupakan seorang yang tangguh, kreatif, fleksibel, serta perkasa. Karena ia merupakan sumber yang terpercaya, reliabel, dan kredibel.

Komunikasi merupakan strategi besar bagi Public Relations dalam menciptakan brand perusahaan khususnya pada masa pandemi ini. Seorang Public Relations haruslah memiliki konsep matang dalam mengelaborasi data dan fakta menjadi sebuah informasi yang dapat disampaikan kepada khalayak. Sosok Public Relations juga harus tahu dan handal mengenai new media, serta tangkas dalam memanfaatkan new media. Maka, jika dahulu Public Relations setiap hari membuat press release, mengirim ke media dan memonitor, kini hal tersebut tidaklah cukup.

Octo Lampito juga menambahkan, terdapat empat cara yang dapat digunakan seorang Public Relations dalam memperkuat brand di masa pandemi. Pertama, komunikasi secara virtual. Dengan memaksimalkan media virtual merupakan strategi pertama untuk branding di masa pandemi. Konten menarik dengan mengangkat isu terhangat, tentu dengan menghadirkan nilai-nilai perusahaan pada tiap konten yang ada, dapat meningkatkan khalayak mengenai eksistensi perusahaan. Kedua, dengan menciptakan sebuah event di dunia maya secara kreatif, baik musik, kuis, maupun webinar. Ketiga, memberikan reward yang menarik yang tentunya mengaitkan dengan logo perusahaan. Strategi tersebut akan memberikan kesan positif, citra baik, dan loyalitas. Dan yang terahkir, suvei virtual yang dilakukan untuk mengukur sejauh mana perhatian pada produk tersebut.

Berdaptasi dengan perkembangan teknologi dan era pandemi menantang para praktisi Public Relations, sanggupkah mengikuti arus dalam perubahan tersebut? Atau malah mati di tempat.

1 Like

Waktu awal-awal dengan istilah new normal rada gerah juga. Padahal padanan bahasa Indonesianya mudah sekali dicari atau diciptakan. Syukurlah akhirnya diganti jadi AKB atau Adaptasi Kebiasaan Baru atau Kebiasaan Baru.