Cetak biru public relations di masa pandemi covid-19


(Sumber: Pinterest/Tyro.com)

Sejak merebaknya pandemi Covid-19, segala aktivitas berubah haluan dari luring menjadi via daring. Beberapa profesi terkena imbas dari situasi saat ini. Salah satunya adalah profesi Public Relations (PR) atau Humas yang berperan sebagai jembatan komunikasi berbagai pihak. Keberadaan protokol kesehatan mengharuskan komunikasi terjalin secara virtual.

Menurut Drs. Octo Lampito, M.Pd., Pimpinan Redaksi surat kabar harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, Public Relations ibarat jantung di dalam tubuh. PR berperan untuk menstimulasi publik dengan informasi. PR juga sering dihubungkan dengan marketing, padahal hal ini sebenarnya berbeda. Suatu organisasi memiliki PR yang membantu, mendidik, memberi informasi, dan menciptakan ketertarikan pada masyarakat.

Sementara itu, pandemi membuat perusahaan terpuruk di satu sisi dan peningkatan pendapatan di lain sisi. PR memiliki tugas layaknya pemain bola yang harus menyerang, bertahan menghadapi krisis, dan memelihara kepercayaan publik. PR harus memiliki cara tersendiri dalam mengelola komunikasi dan menjaga hubungan baik dengan publik, terutama dalam hal menciptakan brand perusahaan. Oleh karena itu, sosok PR yang profesional merupakan jawaban untuk tetap berdiri di tengah pandemi.

Salah satu bentuk strategi PR menurut Drs. Octo adalah memperkuat brand di masa pandemi. Strategi pertama adalah memaksimalkan komunikasi virtual. Bantuk komunikasi virtual yang dipilih dapat berupa konten di media sosial atau mengangkat isu hangat dengan tetap menghadirkan nilai unik perusahaan. Nilai unik tersebut dapat berupa tagline, warna khas, ataupun desain.

Cara kedua yakni dengan mengadakan sebuah event maya kreatif untuk mendapatkan nilai positif berupa pengalaman virtual yang menarik serta penguatan keberadaan perusahaan. Event maya kreatif dapat berupa konser musik virtual, kuis virtual, hingga webinar dengan topik virtual yang sedang gencar dibicarakan masyarakat. Kemudian, cara ketiga adalah memberikan reward atau bonus yang menarik kepada publik. Strategi ini dapat memberikan keuntungan berupa kesan positif, citra baik, dan loyalitas pada perusahaan. Bentuk reward atau bonus ini dapat berbentuk kuis berhadiah atau promo dengan bonus masker dan menyanitasi tangan gratis dengan logo perusahaan. Selain menjaga citra baik, bonus ini juga menjadi bentuk edukasi masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan di masa pandemi.

Selanjutnya, cara keempat dengan survei virtual. Kegiatan ini dilakukan untuk mengukur perhatian publik terhadap produk. Branding di masa pandemi memaksimalkan media daring sebagai lapak baru yang aman, bebas virus, namun tetap menjangkau pasar secara luas. Ditambah lagi, media daring memang sedang menjadi trending di kalangan masyarakat saat ini.

Terlepas dari gagasan di atas, hoaks dapat menyergap kapan saja dan PR harus siap bertempur saat itu juga. PR harus lihai dalam mencari berbagai terobosan baru dan peduli pada situasi sekitar. Revolusi industri, teknologi, dan pandemi menantang para praktisi PR untuk mengikuti arusnya. Pilihannya adalah antara mengikuti perubahaan arus atau mati di tempat.

1 Like